Misi Mengawal Sampai Maradona Buang Air

Rombongan anak muda mengenakan jas didampingi Ketua PSSI Ali Sadikin dan Sekjen PSSI Hans Pandelaki serta beberapa orang lain, masuk ke dalam Istana Wakil Presiden, Senin 20 Agustus 1979. Wakil Presiden Adam Malik mengundang mereka untuk melakukan pelepasan yang diisi acara wejangan. Maklum, anak-anak muda yang dikasih wejangan itu adalah skuad Timnas U-20 yang akan ikut turnamen Piala Dunia junior.

Sehari setelah acara pelepasan kontingen di Jalan Medan Merdeka Selatan itu, tim yang dilatih Sucipto Suntoro terbang ke Jepang mengadu keberuntungan. Misi merebut kemenangan sebanyak-banyaknya memang tetap didengungkan. Tapi jelas Bambang Nurdiansyah cs ini memang butuh banyak keberuntungan karena tiga tim raksasa dunia sudah menanti. Argentina, Polandia dan Yugoslavia.

Toch, Adam Malik seolah tak mau larut dalam rasa pesimistis, dia membesarkan hati para pemain. "Jangan takut menghadapi lawan yang lebih besar, karena belum tentu yang lebih besar itu selalu menang," kata Adam Malik, seperti dituturkan Sucipto Suntoro, kepada wartawan ketika itu.

Setali tiga uang, pelatih ikut menebalkan mental para pemainnya.Dengan nada bombastis, Sucipto meminta anak asuhnya tidak minder terutama mendengar nama besar Argentina. Untuk meredam Tango junior itu, mantan pemain Timnas era 1960-an itu pun menyiapkan cara khusus.

"Pokoknya kita akan membentuk barikade pertahanan dengan semangat benteng keraton," katanya kepada media.

Kompas, menulis Sucipto katanya akan memasang formasi 1-5-4-1 (5-4-1) untuk menghadapi Argentina dengan memasang Imam Murtanto, Nus Lengkoan, Mundari Karya, Didik Darmadi dan Tommy Latuparisa di benteng pertahanan. Khusus untuk menjaga Maradona, Sucipto menugaskan Mundari Karya.

"Sampai (Maradona) buang air pun akan saya suruh ikuti," instruksi Sucipto.

Beberapa bulan sebelum Piala Dunia junior 1979 yang saat itu disebut Piala Coca-Cola, nama Maradona memang sudah jadi buah bibir. Pers Eropa menyebut-nyebutnya sebagai rissing star.

Ketika itu, Maradona baru berusia 18 tahun, tapi dia sudah menjadi bagian inti dari Timnas Argentina bersanding dengan senior-seniornya yang setahun sebelumnya merebut mahkota juara Piala Dunia 1978. Tiga bulan sebelum bertolak ke Jepang, Maradona tampil saat laga persahabatan Argentina menghadapi Belanda di Bern.

"Maradona di tim inti senior dia sudah main bagus. Koran dan majalah Eropa menjulukinya bintang baru. Jadi sebelum berangkat ke Jepang kami sudah tahu siapa Maradona. Media gencar betul saat itu memberitakannya. Dia dielu-elukan. Ketika kejuaraan junior, dia jadi kapten," kenang Bambang Nurdiansyah, salah satu punggawa yang dibawa Sucipto dalam kejuaraan itu.

Meledaknya nama Maradona, ketika itu seperti hanya menunggu waktu. Situasi yang sebenarnya mengecewakan bagi Maradona sendiri. Cesar Luis Menotti, pelatih Argentina memasukan Maradona dalam daftar tiga pemain yang dibuang dari susunan tim Piala Dunia Argentina 1978. Kegagalan itu, membuat Maradona muda frustrasi. Tapi Menotti rupanya punya alasan lain tidak menyertakan Maradona.

"Dia masih terlalu muda," kata Menotti. Dia bergeming dengan keputusannya mendepak bintang yang masih berumur 17 tahun itu, meski media dan berbagai kalangan mengecamnya.

Ini membuat orang semakin penasaran melihat aksi bocah ajaib itu di Piala Dunia junior 1979. Di Jepang saat itu, kata Bambang Nurdiansyah, poster-poster Maradona dipasang di mana-mana. Di jalanan dan toko. Ketenaran Maradona dipakai untuk promosi pertandingan Argentina vs Indonesia di laga perdana Grup B itu. Para pemain Indonesia pun kecipratan tenar.

"Kami diliput koran seluruh dunia. foto-foto ada di buku-buku," kata Banur, sapaan akrab Bambang Nurdiansyah.

 Tapi, seperti perkiraan, akhirnya Mundari Karya cs memang terpaksa berlari-lari di Omiya Stadium, "membaca punggung" Maradona. 26 Agustus 1979 itu, Indonesia akhirnya dihajar 0-5 oleh Argentina. Maradona membobol dua kali gawang Endang Tirtana, masing-masing pada menit 19 dan 39. Tiga gol sisanya, diborong Ramon Diaz pada menit, 10,23 dan 25.

"Di Piala Dunia junior waktu itu yang membedakan Argentina dan tim lain adalah Maradona. Jadi sulit lah buat siapa pun untuk menjaga dia. Secara fisik maupun teknik individu enggak ada yang bisa menjaga dia," tutur Mundari Karya.
(fit)


http://bola.okezone.com/read/2013/07/22/419/840774/misi-mengawal-sampai-maradona-buang-air
◄ Newer Post Older Post ►
 

© Piala Aff 2012 Powered by Blogger