Berangkat dari Filosofi

JAKARTA – Upaya Badan Tim Nasional (BTN) memilih Indra Sjafri untuk menukangi Timnas U-19 tak salah tunjuk. Sang pelatih asal Sumatera Barat itu sukses mengemban amanat untuk menjuarai Piala AFF-19. Itulah gelar pertama Indonesia selama 22 tahun terakhir. Meski hanya di kelompok umur, prestasi tersebut tentu tidak bisa dianggap biasa saja.
 
Lantas apa rahasia Indra untuk bisa ini mencapai kesuksesan yang sebelumnya diusung oleh BTN. Dengan senang hati Indra membeberkan kunci suksenya. Salah satunya, dengan suka rela menelusuri ke pelosok negeri ini demi bisa membuahkan skuad terbaik.
 
Dari ujung barat ke ujung timur, Indra mencari bakat-bakat yang terpendam yang belum pernah dipoles dan mendapatkan kesempatan bermain untuk level Timnas. Waktu untuk keluarga pun terabaikan, bahkan tugasnya sebagai kepala kantor pos harus ditinggalkan demi bisa membuat winning tim.
 
Indra juga tak pandang bulu dalam memilih pemain, entah klub-klub besar di Indonesian Super League (ISL), SAD, hingga ke beberapa diklat di pelosok negeri, tak sungkan untuk dicarinya. Terpenting baginya, memiliiki skill yang sesuai dengan kategori yang diinginkannya.
 
Berbagai upaya ini tak lain dari pengalamannya sendiri, di mana Indra pernah merasakan kekecewaan gagal menembus seleksi Tim PON Sumatra Barat ketika masih muda, karena proses seleksi yang menitikberatkan sasarannya ke klub-klub besar.
 
Dari 70 pemain di pelosok negeri, yang ia rekrut selama pemusatan latihan, Indra menerapkan sistem promosi dan degradasi. Dia juga menjadwalkan beberapa laga uji coba dalam rangka melakukan pemilihan pemain terbaik. Alhasil, Indra mengerucutkan menjadi 23 pemain saja. Skuad Garuda Muda akhirnya terbentuk dan menghasilkan gelar juara.
 
Selain menempa pemainnya agar bisa mengakomodir filosofi sepakbolanya, Indra juga memberikan suntikan motivasi dan mengubah cara pikir para pemain. Ini ia lakukan terutama saat menghadapi Malaysia.
 
"Selama ini kita melihat Malaysia itu merupakan tim yang sulit ditaklukan, jargon 'Ganyang Malaysia' sebenarnya hanya merugikan kita saja. Saya tutup semua anggapan itu, saya bilang ke anak-anak bahwa Malaysia itu kecil, jadi kita tak menganggap mereka itu sebagai lawan besar kita. Saya menganggap bahwa Malaysia bukan siapa-siapa," ucap Indra.
 
Alhasil para pemain pun menutup mata akan status Malaysia yang selama ini menjadi momok menakutkan. "Selama ini Malaysia hanya dibantu oleh tangan tuhan saja," lanjut Indra meneruskan perbincangannya. Dengan agitasi itu, Indra menginginkan para pemainnya tidak canggung dan kalah mental selama bertanding.
 
Beruntung Indra juga punya skuad yang punya semangat juang tinggi. Itu ditunjukkan oleh para pemain bukan hanya diterapkan kala melawan Malaysia saja. Bahkan saat berada di final menghadapi Vietnam, terlihat Evan Dimas Cs seakan tak kenal lelah saat mengejar bola yang hilang dan merebutnya hingga membuahkan peluang.
 
Faktor fisik menjadi modal utama untuk bisa menjadi skuad yang tak kenal lelah. "Saya memilih beberapa dasar untuk para pemain yang ada di skuad saya, salah satunya fisik. Minimal Vo2 Max para pemain saya berada di atas 55, kalau di bawah itu, mereka terdegradasi. Sebab kalau orang bugar otomatis berpikir cerdas," terangnya.
 
Tak hanya fisik, pola makan juga menjadi sorotan pelatih berkumis tebal ini. "Beruntung di dalam ofisial, saya dibantu dokter dan ahli ilmu olahraga. Kalau tidak memiliki penerapan yang ketat, sedangkan pertandingan sehari sekali, maka kita akan habis. Masalah kesehatan juga harus diperbaiki oleh para atlet kita," ujarnya.
 
"Dokter pernah bilang, makanan yang paling bagus adalah beras merah. Cuma masalahnya kami coba sediakan beras merah, tapi anak-anak tidak bisa memakan itu. Tapi sejujurnya beras merah bagus. Sedangkan untuk minum kita biasa es kelapa," tegas Indra.
 
Penjelasan Indra, diamini oleh anak asuhnya, Mohammad Hargianto. Mantan jebolan SSI Arsenal ini mengakui penerapan yang dilakukan coach Indra sangat berdampak pada penampilannya di lapangan. Meski pemain yang biasa dipanggil Hagi ini punya pandangan sendiri mengenai mantan kepala kantor Pos ini.
 
"Dia tipe pelatih yang bisa menempatkan diri, kapan jadi pelatih, kapan jadi teman, atau kapan dia akan jadi bapak bagi kita. Dia bertipikal keras, terutama saat di lapangan, sosok kepelatihannya itu ditunjukkan," terang Hargianto.
 
Indra melanjutkan di mana ada momen dirinya merasa tegang. Terutama jelang adu penalti. Seakan berjudi, Indra memasukkan Dimas Drajad menggantikan Mukhlis. Di sini Indra dianggap berjudi, pasalnya pemain asal Persegres itu baru berusia 16 tahun dan harus diturunkan pada laga seakbar final AFF, apalagi ditugaskan untuk menjadi salah satu algojo.
 
"Saya terpaksa menarik Mukhlis dan menggantikan Dimas, orang-orang pada heran kenapa saya memasukkan anak berusia 16 tahun. Tapi saya tahu kalau Mukhlis tidak bisa menendang penalti, untuk itu saya memasukkan Dimas. Dia tidak pernah tidak masuk saat tendangan penalti," terangnya.
 
Rasa deg-degan pun tetap menggelayuti Indra, meski telah menurunkan algojo-algojo terbaiknya. "Ternyata Evan yang selama latihan selalu yakin mencetak gol penalti, dia gagal. Saat itu saya bersalawat dan akhirnya dua pemain Vietnam gagal dan kami juara," ceritanya.
 
Indonesia pun juara, dan kini Indra menatap kualifikasi Piala AFC U-19. Belum tahu apa target dari BTN menghadapi kejuaraan usia muda se Asia ini. Yang jelas jika memang ingin dibuat jangka panjang, Indra meyakinkan bahwa masih ada banyak pemain yang belum terjamah oleh para pemandu bakat, terutama dirinya.
 
"Saya masih yakin bahwa masih banyak pemain bertalenta yang belum terjamah. Jika ada jangka panjang dari skuad ini, maka bukan tidak mungkin saya akan kembali mencari bibit di pelosok negeri tercinta ini," janji Indra.
(fir)


http://bola.okezone.com/read/2013/09/24/51/871337/berangkat-dari-filosofi
◄ Newer Post Older Post ►
 

© Piala Aff 2012 Powered by Blogger